Selasa, 15 Desember 2020

Puisi Derita oleh Nurul Fadillah Magfirah mahasiswa universitas Islam Negeri Alauddin Makassar


 DERITA

Diwaktu hari yang basah 

Langit yang berwarna nan elok tak lagi kulihat....

terselimut awan kelam lalu terjatuh....

Tak ada riuh lalu lalang yang ada hanya riuh luka......

Tadinya kulihat keceriaan

Namun seketika bibir ini tergigit berusaha membendung bulir demi bulir air mata....mula ku hanya menatap namun, tak dapat lagi kumenahan dengan suara dentuman yang sengaja kau jatuhkan. 

Pacahlah jeritan dua insan yang sepatutnya kau lindungi dan kau jaga namun kini bertolak dari angan dan harapan.... 

Seketika insan itu terjatuh lalu kaku. 

Sedang insan lainya berteriak menjerit mencari petolongan... 

Awan kelam hanyalah memandang merasa ia telah menang.... 

Salah....kesalahan besar...

Bersamaan dengan jatuhnya kedua insan itu jatuhlah engkau wahai awan kelam  bahkan lebih dalam dan lebih dalam lagi... 

Suatu saat kau kan mengerti ternyata engkalau awan kelam itu.... 

Membawa derita dan jeritan bagi keluarga. disetiap hela nafasmu.

Sabtu, 06 Juni 2020

Karena ego


                   

Karena ego 
Cipt. Nurul fadillah magfirah

Ada kalanya laki-laki itu terluka 
Dan luka itu adalah wanita
Raga seakan menolak membenci lalu pergi
Namun sanubari seakan tertegun sayang dan meminta kembali
Itulah wanita 
Ingin dimengerti tak kunjung mengerti
Haus akan perhatian namun tak jua memperhatikan
Kunci wanita adalah perhatian dan pengertian
Mengapa? 
Karena mereka mengedepankan ego
Semua karena ego 
Batin pun tersiksa.

Selasa, 12 Mei 2020

Diamku





Diamku
Cipt. Nurul fadillah magfirah

Ketika diamku adalah senangmu 
Maka  kubungkam mulut ku 
Jika teguran, pisau bagimu 
Akan kutumpulkan demi kau 
Sekli diri diam akan tetap diam 
Tapi....ingat
Kala mulut di bekuk 
Hilang tanpa suara
diam tak menegur akan ada rasa sayat

Senin, 11 Mei 2020

Cinta abadi


Cinta abadi 
Cipt. Nurul Fadillah magfirah

Betulku mungkin salahmu
Salahmu mungkin keliruku
Tuju tak terhujung 
Tinggallah engkau seorang 
Tanpa diriku dulu kau sanjung 
Aku selesai memujimu 
Aku selesai mengagumimu 
Ku lepas hubungan tak diberkati
Yang menjauhkan diri dari suci 
Seketika mendung berganti mentari
Setelah aku menjaga diri
Ku nanti kini cinta surgawi
Sejuk nafasnya sesejuk dzikir pagi hari
Cinta...
Bukan mereka yang menjerumuskan ke neraka
Cinta.... 
membawa
kita menuju manisnya surga